Di Antara Doa, Senyum, dan Evaluasi: Sabtu yang Menyatukan Langkah SD Baiturrohman

Jember, 19 September 2026—Ada Sabtu yang berjalan seperti biasa. Ada pula Sabtu yang membuat kita berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, lalu kembali menyusun langkah untuk hari-hari berikutnya. Sabtu, menjadi salah satu momen bagi keluarga besar SD Baiturrohman Jember yaitu dewan guru dan tenaga kependidikan berkumpul di kediaman Ibu Wildatul Maghfiroh, S.Pd., dalam kegiatan Silmi Sabar (Silaturrahim Sabtu Barokah) sekaligus Rapat Koordinasi dan Evaluasi.  Bukan sekadar pertemuan rutin. Pagi itu, ada doa yang dilangitkan, ada senyum yang dibicarakan, ada cerita yang dibagikan, dan ada evaluasi yang menjadi bekal untuk melangkah lebih baik.

Kegiatan diawali dengan rangkaian Silmi Sabar. Dewan guru dan tenaga kependidikan bersama-sama mengikuti tawassul, pembacaan Surah Yasin dan tahlil, serta Rotibul Haddad, yang kemudian ditutup dengan doa.  Rangkaian kegiatan tersebut dipimpin oleh guru yang telah ditentukan sesuai jadwal.

Di tengah kesibukan mengajar, mendampingi murid, menyelesaikan berbagai tugas, dan memastikan roda pendidikan terus berjalan, sesekali guru dan tenaga kependidikan berhenti untuk mengingat kembali dari mana segala ikhtiar bermula yaitu dari doa.

Silmi Sabar pun menjadi ruang untuk merawat hubungan yang lebih dari sekadar hubungan kerja. Duduk bersama dalam satu majelis, dan berdoa menjadi cara sederhana untuk menguatkan kembali rasa kebersamaan.

Sebelum memasuki agenda ramah tamah dan rapat koordinasi, shohibul bait, Ibu Wildatul Maghfiroh, S.Pd., menyampaikan kultum singkat mengenai makna senyum.

Dalam penyampaiannya, senyum merupakan salah satu bentuk kebaikan yang paling sederhana. Siapa pun bisa melakukannya, tidak membutuhkan biaya, tidak membutuhkan waktu panjang, bahkan tidak memerlukan sesuatu yang rumit.

 

Namun, sesuatu yang sederhana bukan berarti tidak memiliki arti. Senyum dapat menjadi pembuka percakapan. Ia dapat membuat suasana yang semula kaku menjadi lebih cair. Senyum juga dapat menjadi bentuk penghargaan sederhana kepada orang lain sebuah tanda bahwa kehadiran seseorang diterima dengan hangat.

 

“Dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam lingkungan pendidikan, hal-hal kecil semacam ini sering kali justru memberi warna besar.  Satu senyum dari guru mungkin membuat murid merasa lebih nyaman. Senyum dari seorang rekan kerja bisa membuat pekerjaan yang terasa berat menjadi sedikit lebih ringan. Dan senyum yang dibagikan dalam sebuah pertemuan dapat mengingatkan bahwa setiap persoalan akan terasa lebih mudah ketika dihadapi bersama.  Barangkali kita memang tidak selalu bisa meringankan masalah orang lain. Tetapi setidaknya, kita bisa memilih untuk tidak menambah berat suasana.”  Tuturnya.

 

Usai kultum, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah. Suasana pun menjadi lebih cair. Obrolan ringan dan kebersamaan menjadi jeda sebelum memasuki agenda berikutnya yang tak kalah penting: Rapat Koordinasi dan Evaluasi Dewan Guru dan Tenaga Kependidikan SD Baiturrohman.

Dalam rapat tersebut, masing-masing koordinator bidang menyampaikan berbagai hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Evaluasi tidak berhenti pada apa yang telah dilakukan, tetapi juga membicarakan hal-hal yang perlu diperbaiki agar pelayanan pendidikan dan kebersamaan di lingkungan sekolah semakin baik.

Kepala SD Baiturrohman mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan sekaligus terus belajar bersama demi kemajuan lembaga.

“Bapak dan Ibu guru diharapkan terus bisa mengimplementasikan visi dan misi serta terus menjaga kedisiplinan, termasuk menjadi teladan dalam pelaksanaan kegiatan bagi murid-murid,” ujar beliau.  

Demikian salah satu poin yang disampaikan. Ia juga menekankan perhatian terhadap pelaksanaan ATS, serta kekompakan dan keberanian untuk saling bertanya agar seluruh bagian sekolah dapat terus berkembang.

 

Beragam catatan dari masing-masing koordnator bidang dan beberapa guru menunjukkan bahwa evaluasi tidak selalu harus berbentuk perkara besar. Kadang, ia hadir dalam hal-hal sederhana: soal ketepatan waktu mengumpulkan soal, sandal yang kembali perlu dirapikan, parkir yang harus ditata, presensi yang perlu diisi, hingga kebersihan fasilitas yang perlu dijaga bersama.

 

Sebab sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang memiliki banyak program, tetapi juga sekolah yang mau memperhatikan detail-detail kecil yang membuat seluruh aktivitas di dalamnya berjalan lebih tertib.

 

Setelah seluruh rangkaian Silmi Sabar, ramah tamah, dan rapat koordinasi selesai, kegiatan ditutup dengan foto bersama sebagai dokumentasi.  Wajah-wajah yang sebelumnya larut dalam doa, berbincang dalam ramah tamah, dan serius dalam evaluasi, akhirnya bertemu kembali di depan kamera.  Senyum kembali hadir.

 

Mungkin memang demikian cara kebersamaan dirawat: dimulai dengan doa, dihangatkan dengan senyum, lalu dikuatkan melalui kesediaan untuk saling mengevaluasi dan memperbaiki.  Sebab menjadi lebih baik tidak selalu membutuhkan langkah yang besar. Kadang, ia dimulai dari kesediaan untuk duduk bersama, mendengarkan, bercermin, lalu berjalan lagi dengan arah yang sama.