Jember, 17 September 2026 — Menjadi orang tua barangkali adalah satu-satunya pekerjaan yang tidak pernah benar-benar memiliki jam pulang. Tidak ada bel masuk, tidak ada absensi, dan tidak ada buku panduan yang selalu tepat untuk setiap anak.
Kadang, yang dibutuhkan anak bukan nasihat panjang. Barangkali hanya telinga yang mau mendengar. Pelukan yang tidak tergesa-gesa. Atau orang tua yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukan, lalu bertanya, “Nak, hari ini kamu baik-baik saja?”
Berangkat dari kegelisahan dan kebutuhan itulah SD Baiturrohman Jember menghadirkan Talkshow Parenting pada Sabtu, 12 September 2026. Mengusung tema “Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak melalui Pengasuhan Positif dan Pendidikan Karakter Islami”, kegiatan ini mempertemukan wali murid dengan dua narasumber dari latar keilmuan yang saling melengkapi.
Hadir sebagai narasumber pertama, Islahiani Rufa’idah, M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis di Klinik Pratama Politeknik Negeri Jember dan Garwita Institute. Sementara narasumber kedua adalah Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag., Koordinator Prodi PAI FTIK UIN KHAS Jember sekaligus Sekretaris Pemberdayaan Perempuan MUI Kabupaten Jember.
Sejak awal kegiatan, suasana talkshow dirancang bukan sebagai ruang untuk menggurui orang tua. Sebaliknya, forum ini menjadi ruang untuk belajar, berbagi, dan saling menguatkan dalam menjalani proses panjang membersamai tumbuh kembang anak.
Dalam sambutannya sebelum talkshow dimulai, Kepala SD Baiturrohman Jember, Ustadz Hasan, menekankan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab yang tidak bisa dipisahkan antara sekolah dan keluarga.
“Anak-anak tidak hanya belajar ketika berada di sekolah. Mereka juga belajar dari cara orang tua berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, bahkan dari cara kita memperlakukan orang lain. Karena itu, pendidikan akan menjadi lebih kuat ketika sekolah dan keluarga berjalan dalam arah yang sama.”
Pesan tersebut menjadi penting, sebab sekolah pada akhirnya hanya menjadi salah satu ruang tumbuh bagi seorang anak. Rumah adalah ruang pertama tempat anak mengenal kasih sayang, batasan, tanggung jawab, sekaligus nilai-nilai kehidupan. Maka, membangun karakter tidak cukup dilakukan melalui nasihat. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilihat dan dirasakan anak setiap hari.
Memasuki sesi talkshow, Islahiani Rufa’idah mengajak Ayah Bunda melihat pengasuhan dari perspektif perkembangan psikologis anak. Pengasuhan positif bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Begitu pula mendidik dengan tegas tidak selalu harus dilakukan dengan suara keras. Yang diperlukan adalah kemampuan orang tua untuk memahami kebutuhan anak, mengenali emosinya, sekaligus memberikan batasan dengan cara yang sehat.
“Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang hadir, mau memahami, dan bersedia terus belajar. Dalam proses pengasuhan, orang tua juga manusia yang bisa lelah dan bisa salah. Yang penting adalah bagaimana kita memperbaiki cara kita membersamai anak.”— tuturnya
Pernyataan tersebut seolah menjadi jeda bagi para orang tua untuk bernapas. Sebab dalam perjalanan mengasuh anak, orang tua pun sering kali sibuk mengejar standar: anak harus begini, harus begitu, harus cepat bisa, harus berprestasi.
Padahal, setiap anak tumbuh dengan waktunya sendiri. Dan tugas orang tua bukan sekadar mempercepat langkah mereka, melainkan memastikan mereka tidak berjalan sendirian. Karakter Islami Dimulai dari Rumah
Perspektif psikologi kemudian bertemu dengan pendidikan karakter Islami melalui paparan Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag. Baginya, pendidikan karakter tidak semestinya hanya menjadi materi yang dibicarakan di ruang kelas. Nilai-nilai Islam justru akan menjadi lebih bermakna ketika hadir dalam kehidupan sehari-hari anak.
“Pendidikan karakter Islami bukan hanya tentang mengajarkan anak apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Lebih dari itu, kita perlu menghadirkan keteladanan. Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Maka rumah harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang akhlak, kasih sayang, tanggung jawab, dan nilai-nilai agama.”— Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag.
Dengan demikian, pendidikan agama dan pengasuhan positif bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri.
Keduanya justru dapat bertemu dalam satu hal sederhana: keteladanan.
Anak mungkin lupa berapa banyak nasihat yang pernah diberikan kepadanya. Tetapi ia bisa mengingat bagaimana orang tuanya meminta maaf. Bagaimana ayah dan ibunya berbicara ketika berbeda pendapat. Bagaimana mereka memperlakukan orang yang lebih tua. Bagaimana mereka tetap berbuat baik ketika sedang lelah.
Barangkali, di situlah pendidikan karakter sebenarnya sedang berlangsung.
Talkshow semakin hidup ketika Ayah Bunda diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan secara langsung maupun melalui sticky note. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga berangkat dari keseharian: tentang perkembangan anak, pola komunikasi, pengasuhan, hingga keresahan yang mungkin selama ini disimpan sendiri oleh orang tua.
Salah satu wali murid SD Baiturrohman mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberinya sudut pandang baru dalam mendampingi anak.
“Selama ini kadang kita merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anak, tetapi setelah mengikuti talkshow ini saya jadi sadar bahwa anak bukan hanya membutuhkan apa yang kita berikan. Mereka juga membutuhkan kita untuk benar-benar hadir dan memahami mereka.”
Pernyataan itu mungkin sederhana. Namun justru di situlah inti dari kegiatan parenting kali ini.
Sebab menjadi orang tua bukan perlombaan untuk menjadi yang paling tahu. Ia adalah perjalanan panjang untuk terus belajar mengenali manusia kecil yang setiap hari tumbuh di depan mata kita. Belajar Bersama, Bertumbuh Bersama
Selain talkshow dan sesi tanya jawab, kegiatan juga dilengkapi dengan curhat seputar perkembangan anak serta doorprize menarik bagi peserta.
Bagi SD Baiturrohman Jember, kegiatan parenting ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga. Sebab pendidikan yang baik tidak cukup hanya dengan kurikulum yang baik. Ia membutuhkan lingkungan yang saling menguatkan.
Sekolah mengajarkan. Rumah melanjutkan. Sekolah membimbing. Keluarga menguatkan. Dan anak-anak tumbuh di antara keduanya.
Pada akhirnya, mungkin tidak ada resep tunggal untuk menjadi orang tua yang tepat. Setiap anak membawa cerita, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Tetapi ada satu hal yang selalu bisa dimulai hari ini: hadir lebih utuh untuk anak-anak kita.
Karena sebelum mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berprestasi, mereka terlebih dahulu perlu tumbuh sebagai manusia yang merasa dicintai, dihargai, diarahkan, dan dipercaya.
SD Baiturrohman Jember — Berakhlaq Mulia, Cerdas, Berprestasi.
